Secara gografis, Daerah Aliran Sungai Batanghari terletak antara 0 43' sampai 3 46' LS 0 derajat dan 100 45' sampai 104 25' BT dengan luas total sekitar 4,9 juta ha. Sekitar 80% dari luasan DAS tersebut termasuk dalam wilayah Provinsi Jambi, sedangkan sisanya sekitar 20% terletak pada wilayah Sumatera Barat. DAS Batanghari khususnya daerah hulu didominasi daerah berbahan induk kuarter vulkanik dan tersier dengan bentang lahan berupa pegunungan dan vulkan, sedangkan daerah tengah dan hilir didominasi oleh bahan induk tersier dan kuarter, berupa daerah dataran yang sudah tertoreh dan daerah aluvial.


Sebagian besar topografi wilayah DAS Batanghari bervariasi mulai dari topografi datar hingga bergunung. Bentuk datar pada umumnya dijumpai pada wilayah Sub-DAS Batanghari Hilir, sedangkan bentuk berombak dan berbukit umumnya terdapat pada bagian tengah,terutama di wilayah Sub-DAS Batang Sumai dan Sub-DAS Batang Tabir, serta di bagian hilirSub-DAS Batang Tebo dan bagian hilir Sub-DAS Batanghari Hulu.


Kerusakan Daerah Aliran Sungai Batanghari



Lahan Kritis
Kerusakan kawasan hutan dan lahan kritis Kerusakan hutan akan menimbulkan lahan kritis yang untuk merehabilitasinya dibutuhkan biaya yang besar dalam jangka waktu yang lama. Tabel 1.3 menyajikan luas lahan kritis yang terdapat di Propinsi Jambi untuk dalam kawasan hutan dan luar kawasan hutan. Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa sekitar 60,80% dari luas lahan kritis di Propinsi Jambi terletak dalam kawasan DAS Batanghari. Berkurangnya kawasan hutan yang menjadi penyangga keseimbangan ekosistem pada wilayah DAS dapat disebabkan oleh berbagai sebab, antara lain konversi hutan menjadi lahan perkebunan, misalnya untuk perkebunan kelapa sawit, pemberian konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH), atau pembukaan lahan untuk areal
transmigrasi. Luas areal perkebunan kelapa sawit pada tahun 1999 sekitar 300.000 ha dan pertumbuhan luas perkebunan ini hingga tahun 1999 di DAS Batanghari mencapai angka 34% pertahun. Jumlah perkebunan kelapa sawit sampai tahun 2002 tercatat 13 buah dengan kapasitas 3,5 juta ton TBS setiap tahun (Mahendra Taher, 2003). Di samping memiliki efek menguntungkan ditinjau dari pergerakan ekonomi rakyat, pembukaan kebun kelapa sawit ini juga mengancam masalah lingkungan DAS. Pada Sub-DAS Batanghari Hulu yang termasuk wilayah propinsi Sumatera Barat, luas perkebunan kelapa sawit tercatat 119.217 ha.

Erosi dan Sediementasi



Wilayah DAS Batanghari di daerah hulu pada umumnya bertopografi berat, mempunyai curah hujan yang tinggi, serta bentukan tanah yang berasal dari bahan
induk vulkanis. Tiga faktor ini merupakan unsur yang sangat berperanan terhadap erosi. Jika tutupan lahan terbuka, misalnya akibat proses deforestasi, maka dapat diperkirakan bahwa laju erosi yang terjadi akan besar. Kerusakan pada Sub-DAS Batanghari Hulu dengan jenis tanah ordo Andisols , terutama dari Kabupaten Solok sudah berjalan sangat intensif. Tingginya curah hujan mengakibatkan tingginya erosi dan sedimentasi yang masuk perairan sungai Batanghari. Sedimen yang terangkut dari kawasan ini akan bergabung dengan aliran Batang Tebo, Batang Pelepat, dan Batang Tabir. Hasil perhitungan erosi oleh BPDAS Agam-Kuantan pada Sub Sub-DAS Gumanti yang terletak di wilayah hulu Sub-DAS Batanghari Hulu dalam data RTL-RLKT memberikan nilai erosi sebesar 54,91 ton/ha/tahun. Keruhnya air sungai diduga karena seringnya terjadi longsor pada hulu dan sisi sungai, terjadinya pembukaan lahan baru tanpa perlakuan konservasi tanah, semakin kritisnya lahan pada hulu sungai, dan banyaknya penebangan liar.


Lihat dan Download Informasi Selengkapnya Pada Link di Bawah ini di Sini




0 comments:
Post a Comment